Seputar film ASHIAP MAN

no-cuts – Film ASHIAP MAN menceritakan mengenai Zulkarnaen (Atta Halilintar) yang sedari kecil terobsesi tokoh pahlawan yang menceritakan dari ayahnya. Aisyah (Aurelie Hermansyah) adalah satu-satunya orang yang selalu mendukung Zul untuk menjadi ksatria pembela kampung mereka. ASHIAP MAN hadir setelah brainstorming dengan Atta Halilintar yang menyampaikan keinginannya untuk membuat karya yang bisa menginspirasi anak-anak, remaja, dan keluarga Indonesia untuk lebih peduli sesama, peduli lingkungan, dan menyuburkan benih-benih kebangsaan. Karakter Zul sebagai Ashiap Man sangat biasa, dan bisa mewakili kita sekalian. Bukan karakter istimewa yang jauh, dan sulit untuk di identifikasikan ke diri kita. Agar dekat sebagai tontonan bareng-bareng keluarga, dan kental dengan dasar-dasar pendidikan ahlak. Alhamdulillah karya yang menginspirasi ini selesai syuting setelah sempat terhenti oleh pandemi tanpa harus kompromi atas kualitas yang ingin kita berikan kepada penontonnya. Keseriusan dan dedikasi Atta Halilintar untuk karyanya ini perlu dikasih acungan jempol, dan keluwesannya memerankan Zul sebagai Ashiap Man mengingatkan saya kepada almarhum Benyamin S dan Dono Warkop ketika jadi jagoan di film-film lawas yang sangat berkesan bagi saya. Sebagai produser, saya sangat maklum banyak pengamat film yang salah kaprah dan mencoba membandingkan ASHIAP MAN dengan karya-karya dari Marvel ataupun DC yang bukan jadi referensi kami sejak awal membuat karya ini. Benar bahwa sangat besar peranan dari karya-karya tersebut dalam menciptakan mimpi banyak orang untuk serta-merta jadi pahlawan berkekuatan super, padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Harapan saya film yang lulus sensor untuk semua umur ini jadi tontonan yang memupuk benih- benih jiwa ksatria, sekaligus menebalkan keimanan kita hingga berani melawan kezaliman.

Catatan Co Sutradara – Herdanius Larobu film Ashiap Man

Sebuah cerita kepahlawanan yang membawa unsur lokal yang kental, pahlawan yang mempunyai kekuatan karena kemauan dan tekadnya sehingga menginspirasi penonton bahwa #SemuaBisaJadiPahlawan. Skala cerita film heroik ini besar karena melibatkan banyak peran pendukung dan ekstras warga. Set lokasinya yang realistik kampung dan kali di perkotaan juga mengharuskan kami bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pihak lingkungan setempat. Secara teknis ide film ini menjadi rumit karena ada banyak perkelahian, api kebakaran dan bahkan ledakan! Semua harus di lakukan di tempat set asli dan bukan studio. Perencanaan berbulan-bulan dilakukan sebelum proses syuting dimulai. Hal yang memberatkan adalah Atta sebagai sutradara juga harus berperan sebagai tokoh utama. Ia perlu melakukan reading peran dan latihan koreo fighting di saat tim mempersiapkan kebutuhan lain. Penyesuaian naskah, pembuatan kostum, pembangunan set, pengadaan properti, breakdown naskah, breakdown shot list dan banyak lagi koordinasi lainnya harus dilakukan di saat bersamaan. Karena itulah saya ada dan membantu Atta dalam perannya sebagai sutradara. Semua dipersiapkan serapih mungkin untuk proses syuting awal yang diperkirakan dalam 24 hari syuting. Ketika memasuki minggu pertama syuting berita bahaya covid-19 beredar semakin kencang. Dan benar saja di hari syuting ke-11 kita harus membekukan semua kegiatan karena alasan keamanan dan kesehatan nasional. Hari itu adalah hari yang rumit dan sedih untuk kami semua para crew dan pemain. Jadwal kerja yang sudah tersusun harus diabaikan. Set rumah dan pasar harus dihancurkan sebelum waktunya. Kita harus berpisah dahulu sebelum pekerjaan selesai. Berikut kami rekomendasikan situs informasi lainnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *